Beihai Park

Beihai Park, Pesona Taman Kekaisaran di Jantung Beijing

JAKARTA, blessedbeyondwords.com —  Beihai Park merupakan salah satu ruang hijau bersejarah yang paling menarik di pusat Kota Beijing, Tiongkok. Letaknya berada tidak jauh dari Kota Terlarang sehingga taman ini dapat dimasukkan ke dalam rangkaian perjalanan menjelajahi kawasan bersejarah ibu kota. Di tengah kepadatan bangunan modern, lalu lintas, dan kehidupan perkotaan yang bergerak cepat, kawasan tersebut menjadi kantong ketenangan dengan danau, pepohonan, jembatan, kuil, serta paviliun tradisional.

Taman ini berkembang melalui berbagai periode pemerintahan, termasuk Dinasti Jin, Yuan, Ming, dan Qing. Perjalanan sejarah yang panjang membuat susunan lanskapnya tidak sekadar berfungsi sebagai tempat rekreasi. Setiap bangunan, pulau buatan, halaman, serta jalur taman menyimpan jejak perubahan kekuasaan dan perkembangan seni pertamanan di Tiongkok. Pada 1925, kawasan yang sebelumnya digunakan oleh keluarga kekaisaran tersebut dibuka untuk masyarakat umum.

Beihai Park memiliki luas sekitar 68,2 hektare, dengan kurang lebih 38,9 hektare berupa permukaan air. Komposisi tersebut menjadikan danau sebagai pusat pandangan sekaligus unsur utama dalam tata ruang taman. Perancangannya mengikuti prinsip taman klasik Tiongkok yang dikenal sebagai konsep “satu danau dan tiga bukit”.

Ketika memasuki kawasan ini, pengunjung akan merasakan suasana yang berbeda dari jalan-jalan sibuk di sekitarnya. Ranting pohon willow menjuntai di atas air, perahu bergerak perlahan, dan atap bangunan tradisional terlihat di antara rimbunnya pepohonan. Beihai Park terasa seperti sebuah buku sejarah terbuka yang halaman-halamannya dibentuk oleh air, batu, tumbuhan, dan arsitektur.

White Dagoba yang Menjulang di Atas Pulau Qionghua

Salah satu ikon paling mudah dikenali di Beihai Park adalah White Dagoba atau Pagoda Putih. Bangunan bergaya stupa Tibet tersebut berdiri di bagian tertinggi Pulau Qionghua, yang juga dikenal sebagai Jade Islet. Warna putihnya terlihat tegas di antara pepohonan hijau dan atap bangunan berwarna merah, menciptakan pemandangan yang sering digunakan sebagai gambaran utama taman ini.

Untuk mencapai kawasan pagoda, pengunjung dapat melewati Yong’an Bridge. Jembatan tersebut menjadi salah satu titik fotografi populer karena menawarkan komposisi lengkap berupa air danau, jembatan batu, kawasan perbukitan, dan White Dagoba sebagai latar belakang. Pemandangan ini memperlihatkan bagaimana arsitektur dirancang agar menyatu dengan lanskap, bukan sekadar ditempatkan sebagai bangunan terpisah.

Perjalanan menuju bagian atas pulau menghadirkan pengalaman tersendiri. Tangga dan jalur menanjak membawa pengunjung melewati gerbang, halaman, tempat ibadah, serta bangunan yang dihiasi warna-warna khas arsitektur tradisional. Dari beberapa titik yang lebih tinggi, permukaan Danau Beihai terlihat membentang dengan perahu-perahu kecil yang bergerak seperti serpihan warna.

Di sekitar pulau juga terdapat Yong’an Temple, sebuah kompleks bangunan keagamaan yang disusun mengikuti kontur bukit. Susunan tersebut menciptakan lapisan visual yang indah. Dari bawah, bangunan-bangunan tampak menaiki bukit menuju pagoda. Dari atas, pengunjung dapat memandang taman sebagai rangkaian pulau, koridor beratap, pepohonan, dan permukaan air yang berkilau.

Menyusuri Danau, Paviliun, dan Dinding Sembilan Naga

Danau merupakan denyut utama Beihai Park. Pada musim yang mendukung, wisatawan dapat menyewa perahu dan menikmati taman dari permukaan air. Pengalaman tersebut memberikan sudut pandang berbeda karena bangunan-bangunan bersejarah terlihat seolah mengambang di antara pepohonan dan pantulan danau.

Perjalanan dengan perahu cocok bagi pengunjung yang ingin beristirahat setelah berjalan mengelilingi kawasan. Gerakan air yang tenang, tiupan angin, serta pemandangan pulau menghadirkan suasana santai yang sulit ditemukan di pusat kota besar. Pada musim panas, bunga teratai menambah warna pada danau. Tradisi penanaman teratai di kawasan Beihai bahkan telah tercatat sejak masa Dinasti Jin.

Beihai Park

Selain danau dan White Dagoba, pengunjung dapat mendatangi Nine-Dragon Wall. Dinding tersebut dibangun pada 1756 dan dihiasi susunan bata berglasir berwarna-warni pada kedua sisinya. Ukiran sembilan naga yang dinamis memperlihatkan tingkat keterampilan tinggi dalam seni dekorasi arsitektur Tiongkok.

Kawasan tepi utara dan timur juga menyimpan paviliun, halaman, taman kecil, koridor, serta bangunan yang menawarkan atmosfer lebih sunyi. Beberapa sudutnya cocok untuk berjalan santai sambil memperhatikan detail ukiran, susunan batu, bentuk jendela, dan pepohonan tua. Keindahan Beihai Park tidak hanya berada pada monumen utamanya, tetapi juga tersembunyi dalam peralihan lembut antara halaman terbuka, lorong sempit, tepian danau, dan taman berbatu.

Waktu Terbaik dan Cara Menikmati Setiap Sudut

Musim semi menjadi waktu yang menyenangkan untuk mengunjungi Beihai Park karena udara cenderung nyaman dan pepohonan mulai dipenuhi daun muda. Musim panas menawarkan pemandangan teratai, kegiatan berperahu, dan suasana taman yang hidup. Namun, suhu dapat terasa lebih panas sehingga pengunjung sebaiknya membawa air minum dan mengenakan pelindung dari sinar matahari.

Musim gugur menghadirkan warna dedaunan yang lebih hangat. Cahaya matahari pada periode ini sering menciptakan pantulan keemasan pada permukaan danau. Sementara itu, musim dingin memberikan karakter yang berbeda. Danau, cabang pepohonan, serta bangunan bersejarah terlihat lebih hening dan dramatis, terutama ketika kawasan diselimuti salju.

Pengunjung sebaiknya menyediakan waktu sekitar tiga hingga empat jam agar dapat menikmati taman tanpa tergesa-gesa. Datang pada pagi hari merupakan pilihan ideal untuk memperoleh suasana yang lebih tenang. Pada waktu tersebut, wisatawan juga dapat melihat kegiatan warga setempat, mulai dari berjalan santai, berolahraga, memainkan alat musik, hingga berkumpul bersama komunitas.

Pada musim ramai, yakni 1 April sampai 31 Oktober, area taman umumnya dibuka pukul 06.00–21.00 dengan batas masuk pukul 20.30. 1 November sampai 31 Maret, jam operasional umumnya berlangsung pukul 06.30–20.00 dengan batas masuk pukul 19.30. Area atraksi dan halaman tertentu memiliki jadwal yang lebih singkat, serta sebagian lokasi ditutup setiap Senin di luar hari libur nasional. Jadwal tetap perlu diperiksa kembali sebelum kedatangan karena dapat berubah akibat kegiatan khusus atau pemeliharaan.

Gunakan alas kaki yang nyaman karena kawasan taman cukup luas dan memiliki jalur menanjak. Membawa kamera juga layak dipertimbangkan. Pantulan White Dagoba di permukaan danau, gerbang tradisional, jembatan, serta ranting willow menyediakan banyak komposisi menarik tanpa perlu berjalan jauh dari jalur utama.

Ketika Sejarah dan Ketenangan Bertemu di Tepi Danau

Beihai Park bukan sekadar taman kota dengan pemandangan indah. Destinasi ini merupakan ruang tempat sejarah kekaisaran, kehidupan masyarakat, seni arsitektur, dan alam bertemu dalam satu bentang yang harmonis. Danau menjadi cermin bagi pagoda, jembatan menjadi penghubung antarzaman, sedangkan pepohonan tua menjaga suasana taman tetap teduh di tengah perubahan Beijing.

Wisatawan dapat datang untuk mempelajari sejarah, mengagumi bangunan kuno, menaiki perahu, memotret White Dagoba, atau hanya duduk di tepi danau. Setiap aktivitas menawarkan cara berbeda untuk memahami daya tarik Beihai Park. Keindahannya tidak memaksa pengunjung untuk terus bergerak. Taman ini justru mengajak setiap orang memperlambat langkah dan memperhatikan detail-detail kecil yang mudah terlewatkan.

Bagi pencinta perjalanan budaya, Beihai Park layak ditempatkan dalam daftar destinasi utama selama berada di Beijing. Taman kekaisaran ini menghadirkan pengalaman yang lengkap tanpa kehilangan ketenangannya. Setelah meninggalkan gerbang taman, bayangan pagoda putih, suara air, serta siluet paviliun kemungkinan masih akan tersimpan dalam ingatan, seperti potongan sejarah yang ikut pulang bersama perjalanan.

Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang  travel

Simak ulasan mendalam lainnya tentang Tiananmen Square: Jejak Sejarah di Jantung Kota Beijing

Author