Khanom Buang

Khanom Buang: Camilan Legendaris Thailand, Manis Gurih Menggoda!

JAKARTA, blessedbeyondwords.com  —  Khanom Buang adalah jajanan yang kelihatannya sederhana banget, tapi begitu lo lihat langsung, ada sesuatu dari bentuknya yang langsung narik perhatian. Kulitnya tipis banget kayak crepes mini, tapi digulung halus kayak taco mungil. Warna toppingnya cerah—kuning keemasan dari serabut telur, putih lembut dari krim, atau oranye pekat dari kelapa panggang.

Pas gue pertama kali lihat jajanan ini di pasar malam Bangkok, gue langsung berhenti. Bukan cuma karena bentuknya lucu dan fotogenik, tapi juga karena proses bikinnya kelihatan satisfying banget. Pedagangnya ngolesin adonan dengan cepat, nambahin krim putih yang wangi, lalu taburin topping warna-warni. Dalam hitungan detik, kulitnya berubah renyah dan siap dilipat. Gue ngiler banget.

Begitu gue coba, gue langsung ngerti kenapa Khanom Buang punya banyak penggemar. Gigitan pertama langsung nyajiin kombinasi tekstur yang nggak banyak gue temuin di jajanan Indo. Kulitnya renyah parah, tapi krimnya lembut banget. Rasanya manis tapi nggak lebay. Ada wangi pandan yang samar, ada sensasi gurih dari topping tertentu. Pokoknya lengkap.

Sejarah Khanom Buang yang Ternyata Nggak Sesimpel Bentuknya

Kalau lo ngira Khanom Buang cuma snack cute buat konten TikTok, lo salah besar. Jajanan ini udah ada sejak era Ayutthaya, masa kerajaan kuno Thailand. Dulu, jajanan ini sering disajikan dalam acara besar, termasuk festival agama dan upacara kerajaan.

Makin gue gali, makin menarik. Ternyata, banyak ahli kuliner percaya bahwa Khanom Buang punya pengaruh dari budaya India dan Khmer, terutama dari jenis crepes tipis tradisional yang sering dibuat di wilayah Asia Selatan. Thailand kemudian ngembangin versi mereka sendiri dengan bahan lokal seperti kelapa, gula aren, dan telur bebek.

Lebih seru lagi, tiap wilayah di Thailand punya gaya dan resep berbeda. Ada daerah yang bikin kulitnya lebih lembut dan tebal, ada juga yang bikin super tipis kayak kertas. Beberapa versi bahkan pakai topping savory yang lumayan ekstrem—kayak isian udang pedas atau campuran herbal lokal.

Proses Pembuatan Khanom Buang yang Bikin Gue Salfok Sama Ketelatenannya

Kalau lo lihat pedagang Khanom Buang bikin jajanan ini, gue yakin lo juga bakal terpukau. Ada seni tersendiri di balik prosesnya—mulai dari bikin adonan sampai plating yang rapi.

Pertama, adonan kulit Khanom Buang dibuat dari tepung beras, telur, gula palem, dan sedikit air. Adonannya cair dan gampang diratakan di wajan datar. Pedagang biasanya punya alat mirip spatula kecil yang mereka pakai buat ngoles adonan jadi tipis dan rata.

Khanom Buang

Setelah kulit mulai kering, mereka tambahin krim putih yang biasanya dibuat dari putih telur yang dikocok dengan gula sampai fluffy. Krim ini bikin rasa Khanom Buang jadi lembut dan manis.

Baru deh topping ditaruh. Versi manis biasanya pakai serabut telur (foi thong), kelapa parut karamel, atau pasta pandan. Versi gurih pakai topping kayak udang cincang, merica putih, kelapa sangrai, dan kadang-kadang ada bumbu khusus.

Rasa yang Menurut Gue Susah Dilupain

Kalau ngomongin rasa, Khanom Buang itu punya karakter unik yang bikin dia beda dari jajanan lain. Versi manisnya punya perpaduan renyah-lembut-wangi yang bikin lo betah ngemil berkali-kali. Krimnya lembut dan punya rasa manis yang kalem—nggak nyegrak, nggak bikin enek. Ditambah serabut telur yang wangi dan punya tekstur halus, rasanya jadi kompleks tapi tetap ringan.

Sedangkan versi gurih punya kepribadian yang jauh lebih bold. Udang cincang yang gurih, kelapa panggang yang wangi, plus sedikit rempah khas Thailand bikin gigitan lo jadi lebih “berisi”. Ada sentuhan smoky dari kulit yang dipanggang, ada gigitan crunchy, ada rasa asin-gurih yang elegan.

Gue bahkan pernah nyobain versi fusion yang lebih modern. Ada yang pakai topping cokelat, matcha, sampai cream cheese. Beberapa kedengeran aneh, tapi surprisingly enak.

Pengalaman Kuliner Gue Saat Pertama Kali Nemu Khanom Buang

Pengalaman pertama gue sama Khanom Buang terjadi di Chatuchak Weekend Market. Suasananya rame banget, panas, tapi juga meriah. Lo bisa nemuin semua jenis makanan, tapi ada satu aroma manis yang langsung narik gue.

Begitu gue ikutin aromanya, gue nemuin booth kecil dengan antrean lumayan panjang. Gue langsung mikir, “Pasti enak nih, kalau ngantriannya kayak gini.” Dan bener aja. Begitu pesenan gue jadi, gue ambil satu, gue gigit… dan gue langsung bengong.

Teksturnya gila sih. Renyahnya pas, krimnya lembut banget. Rasanya ringan tapi bikin gue pengen terus makan. Gue bener-bener merasa kayak nemuin harta karun kuliner baru.

Di perjalanan berikutnya, gue sampai hunting beberapa versi lain di daerah berbeda. Ada yang rasanya lebih smoky, ada yang lebih manis, ada yang toppingnya lebih tebal. Semuanya punya karakter masing-masing.

Full Review Dari Gue

Menurut gue, Khanom Buang bukan cuma jajanan biasa. Ini adalah representasi dari bagaimana budaya, kreativitas, dan tradisi bisa nyatu dalam satu camilan kecil. Dari sejarah panjangnya sampai variasi rasanya, semuanya bikin gue makin respect sama kuliner Thailand.

Kalau lo suka jajanan manis yang ringan tapi memorable, Khanom Buang wajib lo coba. Kalau lo suka makanan gurih yang punya aroma khas dan rasa yang kuat, juga wajib banget lo cobain. Fleksibel banget.

Buat gue pribadi, jajanan ini selalu punya cerita. Rasanya nggak cuma enak, tapi juga nostalgic. Setiap bisa makan Khanom Buang, gue selalu inget suasana pasar malam, aroma makanan, dan senyuman pedagang yang sibuk tapi ramah.

Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang  food

Baca juga artikel menarik lainnya mengenai Bakpao Ayam: Kenikmatan Lembut yang Susah di Lupain!

Author