JAKARTA, blessedbeyondwords.com – Setiap musim gugur, keluarga Korea berkumpul di dapur untuk melakukan tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad. Tangan-tangan terampil dari tiga generasi membentuk adonan beras menjadi bulan sabit kecil yang cantik. Aroma daun pinus menguar dari kukusan, membangkitkan kenangan masa kecil dan harapan untuk masa depan. Inilah momen pembuatan songpyeon, kue beras tradisional yang menjadi simbol perayaan Chuseok atau hari Thanksgiving ala Korea yang penuh makna.
Songpyeon merupakan kue beras tradisional Korea berbentuk setengah bulan atau bulan sabit yang dibuat khusus untuk merayakan festival panen Chuseok. Kue ini terbuat dari tepung beras yang diisi dengan berbagai isian manis seperti biji wijen, kacang merah, atau kastanye kemudian dikukus di atas hamparan daun pinus segar. Nama songpyeon sendiri berasal dari kata song yang berarti pohon pinus dan pyeon yang berarti kue, merujuk pada metode pengukusan tradisional yang memberikan aroma khas hutan pinus pada setiap gigitan.
Sejarah dan Makna Songpyeon dalam Budaya Korea

Tradisi membuat songpyeon telah mengakar dalam budaya Korea selama ratusan tahun. Kue ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Chuseok yang jatuh pada tanggal 15 bulan ke-8 dalam kalender lunar, bertepatan dengan Festival Pertengahan Musim Gugur yang juga dirayakan di berbagai negara Asia.
Secara tradisional, keluarga Korea membuat songpyeon menggunakan beras hasil panen tahun itu sebagai ungkapan syukur atas kelimpahan yang diterima. Kue-kue ini kemudian dipersembahkan kepada leluhur pada pagi hari Chuseok melalui ritual charye sebelum dinikmati bersama keluarga dan dibagikan kepada tetangga sebagai tanda penghormatan dan persahabatan.
Bentuk setengah bulan pada songpyeon memiliki simbolisme mendalam. Bulan sabit melambangkan pertumbuhan dan kelimpahan, seperti bulan yang semakin penuh seiring waktu. Orang Korea percaya bahwa membuat songpyeon sambil mengucapkan harapan akan membawa keberuntungan. Ada pula kepercayaan yang mengatakan bahwa seseorang yang membuat songpyeon dengan bentuk cantik akan bertemu jodoh yang baik atau melahirkan anak yang rupawan.
Bahan Utama Pembuatan Songpyeon Tradisional
Kesederhanaan bahan menjadi ciri khas songpyeon yang membuatnya bertahan melampaui generasi. Berikut komponen utama yang dibutuhkan:
Tepung Beras
Bahan dasar songpyeon adalah tepung beras non-glutinous atau ssalgaru yang berbeda dari tepung ketan. Tepung ini dibuat dari beras butir pendek yang direndam semalaman kemudian digiling halus. Di toko bahan makanan Korea, tepung ini dijual dalam keadaan beku karena kandungan air yang tinggi membuatnya mudah rusak.
Isian Tradisional
Isian paling klasik adalah campuran biji wijen yang disangrai, digiling kasar, lalu dicampur dengan madu atau gula. Alternatif tradisional lainnya meliputi pasta kacang merah manis, kacang hijau yang dihaluskan, dan kastanye cincang. Setiap keluarga biasanya memiliki resep isian rahasia yang diwariskan turun-temurun.
Pewarna Alami
Songpyeon modern hadir dalam berbagai warna yang dihasilkan dari bahan alami. Warna hijau dari bubuk mugwort atau daun ssuk, kuning dari labu kuning atau biji gardenia, merah muda dari stroberi atau omija, dan ungu dari ubi ungu. Lima warna atau osaek songpyeon melambangkan harmoni alam dalam filosofi Korea.
Daun Pinus
Daun pinus segar menjadi alas pengukusan yang memberikan aroma khas dan mencegah kue saling menempel. Kandungan phytoncide dalam daun pinus juga dipercaya memiliki khasiat kesehatan dan memperpanjang kesegaran kue sebelum era lemari pendingin.
Cara Membuat Songpyeon di Rumah
Membuat songpyeon membutuhkan kesabaran dan ketelitian namun prosesnya sangat rewarding. Berikut panduan lengkap untuk mencobanya di rumah:
Bahan Adonan
- 2 gelas tepung beras basah atau tepung beras biasa
- Setengah sendok teh garam
- 4 hingga 6 sendok makan air mendidih
- Bubuk pewarna alami sesuai selera
Bahan Isian Wijen
- Setengah gelas biji wijen putih
- 2 sendok makan gula
- 1 sendok makan madu
- Sejumput garam
LangkahMembuatIsian
- Sangrai biji wijen di wajan tanpa minyak hingga keemasan dan harum
- Dinginkan kemudian giling kasar menggunakan blender atau food processor
- Campurkan wijen giling dengan gula, madu, dan garam hingga rata
- Sisihkan dalam wadah tertutup
Langkah Membuat Adonan
- Campurkan tepung beras dengan garam dalam wadah besar
- Tuangkan air mendidih sedikit demi sedikit sambil diaduk dengan spatula
- Setelah adonan mulai menggumpal, uleni dengan tangan hingga halus dan elastis
- Tekstur yang tepat seperti menekan cuping telinga, lembut namun sedikit kenyal
- Tutup adonan dengan kain lembab dan diamkan 15 hingga 20 menit
Langkah Membentuk Songpyeon
- Ambil adonan seukuran bola pingpong dan bulatkan di telapak tangan
- Tekan bagian tengah dengan ibu jari untuk membuat cekungan
- Masukkan satu sendok teh isian ke dalam cekungan
- Rapatkan tepi adonan dan bentuk menyerupai setengah bulan
- Rapikan bentuk dengan menekan lembut menggunakan jari
- Letakkan songpyeon yang sudah dibentuk di atas daun pinus dalam kukusan
- Kukus selama 20 hingga 30 menit hingga adonan matang dan mengkilap
- Angkat dan bilas cepat dengan air dingin untuk menjaga tekstur kenyal
- Olesi tipis dengan minyak wijen untuk kilau dan mencegah lengket
Cita Rasa dan Tekstur Songpyeon yang Memukau
Menggigit songpyeon yang baru dikukus adalah pengalaman sensorik yang sulit dilupakan. Kulit luarnya memiliki tekstur kenyal khas kue beras yang sedikit lengket namun tidak menempel di gigi. Aroma daun pinus yang subtle memberikan nuansa hutan yang menyegarkan dan membedakan songpyeon dari kue beras biasa.
Ketika gigi menembus lapisan kulit, isian manis menyambut dengan kontras tekstur yang menyenangkan. Isian wijen memberikan sensasi nutty dan sedikit renyah dari butiran yang tidak digiling sempurna. Manisnya seimbang, tidak berlebihan, dengan sentuhan madu yang menghangatkan.
Songpyeon paling nikmat disantap dalam keadaan hangat ketika teksturnya paling optimal. Namun kue ini juga dapat dinikmati pada suhu ruangan. Jika disimpan di lemari pendingin, teksturnya akan mengeras dan perlu dikukus ulang sebelum disajikan. Hindari memanaskan dengan microwave karena akan membuat songpyeon menjadi keras seperti batu.
Variasi Songpyeon dari Berbagai Provinsi Korea
Seperti banyak makanan tradisional, songpyeon memiliki variasi regional yang mencerminkan kekayaan lokal masing-masing daerah:
Seoul dan Gyeonggi
Dikenal dengan osaek songpyeon atau songpyeon lima warna berukuran mungil. Lima warna yaitu putih, cokelat, merah muda, hijau, dan kuning melambangkan harmoni alam dan keseimbangan kosmis.
Chungcheong
Terkenal dengan hobak songpyeon atau songpyeon labu. Bubuk labu kuning kering dicampur ke dalam adonan menghasilkan warna cerah dan rasa manis alami. Bentuknya sering dibuat menyerupai labu mini.
Gangwon
Menggunakan tepung kentang dan bubuk biji ek yang melimpah di daerah pegunungan ini. Songpyeon Gangwon biasanya lebih pipih dengan bekas tekanan jari yang khas, bahkan di Gangneung orang meninggalkan cap tangan di permukaan kue.
Gyeongsang
Ukuran songpyeon dari daerah ini lebih besar dibanding provinsi lain. Ramie songpyeon yang menggunakan daun ramie rebus menjadi kekhasan yang dipercaya lebih menyehatkan.
Jeolla
Dikenal dengan flower songpyeon atau songpyeon berbentuk bunga yang cantik. Pewarna alami digunakan untuk menciptakan kelopak bunga yang realistis, baik dibentuk tangan maupun menggunakan cetakan khusus.
Pyeongan Korea Utara
Jogae songpyeon atau songpyeon kerang memiliki bentuk unik menyerupai cangkang kerang. Isian menggunakan campuran wijen, gula, dan kecap asin yang memberikan sentuhan umami.
Tips MembuatSongpyeon yang Sempurna
Beberapa rahasia untuk menghasilkan songpyeon dengan kualitas terbaik:
- Gunakan air yang benar-benar mendidih saat mencampur adonan untuk tekstur kenyal optimal
- Jangan terlalu banyak menambahkan isian karena akan sulit ditutup dan bocor saat dikukus
- Pastikan tepi adonan tertutup rapat tanpa ada celah udara
- Jangan menumpuksongpyeon terlalu rapat di kukusan agar uap dapat bersirkulasi
- Bilas dengan air es segera setelah dikukus untuk menghentikan proses pemasakan
- Simpan sisasongpyeon dalam freezer dan kukus ulang saat akan disajikan
Kesalahan umum yang perlu dihindari adalah adonan yang terlalu kering atau terlalu basah. Adonan yang tepat seharusnya tidak lengket di tangan namun juga tidak retak saat dibentuk. Tambahkan air atau tepung sedikit demi sedikit untuk mencapai konsistensi yang diinginkan.
Makna Filosofis di Balik Bentuk Songpyeon
Bentuk setengah bulan pada songpyeon bukan sekadar estetika melainkan sarat filosofi kehidupan. Dalam pemikiran Korea tradisional, bulan purnama melambangkan kesempurnaan yang justru merupakan awal dari penurunan. Sebaliknya, bulan sabit merepresentasikan potensi pertumbuhan dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Momen membuatsongpyeon bersama keluarga juga mengandung nilai-nilai penting. Generasi tua mengajarkan teknik kepada yang muda, meneruskan warisan budaya melalui praktik langsung. Percakapan mengalir di antara tangan-tangan yang sibuk membentuk adonan, mempererat ikatan keluarga yang mungkin jarang berkumpul di hari biasa.
Ada pula tradisi kompetisi informal untuk melihat siapa yang membuatsongpyeon paling cantik. Pepatah Korea mengatakan bahwa pembuatsongpyeon tercantik akan mendapat jodoh yang baik atau melahirkan anak yang rupawan. Kepercayaan ini menambah keseruan dan kehangatan dalam proses pembuatan bersama.
Songpyeon dalam Perayaan Chuseok Modern
Meski zaman berubah, tradisi membuat songpyeon tetap hidup dalam perayaan Chuseok kontemporer. Banyak keluarga Korea modern yang masih menyempatkan waktu untuk membuat kue ini bersama-sama meski dengan berbagai penyesuaian praktis.
Beberapa perubahan yang terjadi meliputi:
- Penggunaan tepung beras instan yang tidak perlu direndam semalaman
- Pewarna makanan komersial sebagai alternatif pewarna alami
- Kukusan elektrik atau rice cooker menggantikan kukusan tradisional
- Pembelian daun pinus bersih dari toko alih-alih mengumpulkan sendiri
- Pembagian tugas lebih fleksibel tidak terbatas pada perempuan saja
Di luar Korea, komunitas diaspora tetap mempertahankan tradisi ini sebagai cara menjaga koneksi dengan akar budaya. Toko bahan makanan Korea di berbagai negara menyediakan semua bahan yang dibutuhkan menjelang musim Chuseok.
Nilai Gizi dan Manfaat KesehatanSongpyeon
Sebagai makanan tradisional, songpyeon ternyata memiliki profil nutrisi yang cukup baik:
- Karbohidrat kompleks dari tepung beras memberikan energi berkelanjutan
- Biji wijen kaya akan kalsium, zat besi, dan asam lemak sehat
- Kacang merah mengandung protein nabati dan serat tinggi
- Pewarna alami dari sayuran memberikan antioksidan tambahan
- Kandungan lemak relatif rendah karena proses pengukusan tanpa minyak
Meski demikian, kandungan gula dari isian dan karbohidrat dari tepung beras perlu diperhatikan bagi yang membatasi asupan kalori. Satu buah songpyeon berukuran standar mengandung sekitar 60 hingga 80 kalori tergantung jenis isian.
Kesimpulan
Songpyeon adalah lebih dari sekadar kue beras manis, melainkan perwujudan nilai-nilai keluarga, rasa syukur, dan harapan dalam budaya Korea. Setiap bulan sabit yang dibentuk dengan tangan membawa doa untuk keberuntungan, setiap aroma daun pinus mengingatkan pada tradisi leluhur yang terus dijaga. Bagi yang ingin merasakan kekayaan kuliner Korea, membuatsongpyeon di rumah menjadi cara indah untuk memahami filosofi dan kehangatan di balik perayaan Chuseok. Dengan bahan sederhana dan sedikit kesabaran, siapapun dapat menciptakan kue tradisional ini dan merasakan kelezatan yang telah memikat hati orang Korea selama berabad-abad.
Telusuri Artikel Bertema: Food
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Hotteok: Pancake Manis Korea yang Menggugah Selera
