JAKARTA, blessedbeyondwords.com — Kalau bicara soal makanan Jepang, banyak orang langsung membayangkan sushi atau ramen. Padahal, di balik itu semua ada satu hidangan hangat yang diam-diam punya tempat istimewa di hati masyarakat Jepang, yaitu sukiyaki. Hidangan ini bukan sekadar makanan berkuah biasa, tetapi juga bagian dari tradisi, kebersamaan, dan momen intim di meja makan.
Sukiyaki mulai dikenal luas sejak era Meiji, saat Jepang mulai membuka diri terhadap konsumsi daging sapi. Sebelum masa itu, makan daging bukanlah hal yang lazim. hadir sebagai simbol perubahan zaman, modernisasi, dan adaptasi budaya. Dari situlah, hidangan ini berkembang menjadi sajian yang identik dengan perayaan kecil, kumpul keluarga, hingga jamuan santai bersama teman.
Menariknya, sukiyaki tidak dimasak di dapur lalu disajikan begitu saja. Proses memasaknya justru menjadi bagian dari pengalaman makan. Panci panas diletakkan di tengah meja, bahan-bahan dimasak perlahan, dan setiap orang ikut terlibat. Ada kehangatan yang lahir bukan hanya dari kuahnya, tetapi juga dari interaksi antar orang yang duduk melingkar.
Racikan Bahan Sukiyaki yang Sederhana tapi Berkarakter
Sekilas, bahan sukiyaki terlihat sederhana. Irisan daging sapi tipis, tahu, sayuran, jamur, dan mie shirataki. Namun jangan tertipu oleh kesederhanaannya, karena justru di sanalah kekuatan berada. Setiap bahan punya peran rasa dan tekstur yang saling melengkapi.
Daging sapi menjadi bintang utama. Biasanya digunakan daging dengan marbling yang cukup agar saat terkena panas, lemaknya meleleh dan menyatu dengan kuah. Kuah sukiyaki sendiri terbuat dari campuran kecap asin Jepang, gula, dan mirin. Rasanya manis-gurih, ringan tapi membekas.
Sayuran seperti sawi napa, daun bawang, dan jamur shiitake memberikan keseimbangan. Tahu menambah tekstur lembut, sementara shirataki memberi sensasi kenyal tanpa membuat cepat kenyang. Semua bahan ini dimasak bersama, menyerap kuah, lalu disantap perlahan.
Ada satu kebiasaan unik dalam menikmati sukiyaki, yaitu mencelupkan daging yang sudah matang ke dalam telur mentah yang dikocok. Bagi yang belum terbiasa, ini mungkin terdengar aneh. Namun telur memberikan lapisan rasa creamy yang menenangkan, sekaligus menurunkan panas dari daging.
Cara Menikmati yang Bukan Sekadar Makan
Makan sukiyaki bukan soal cepat atau lambat, melainkan soal menikmati proses. Panci dipanaskan, sedikit lemak sapi dilelehkan, lalu daging dimasak sebentar sebelum kuah dituangkan. Setelah itu, bahan lain masuk secara bertahap.
Tidak ada aturan kaku siapa yang memasak. Kadang satu orang bertindak sebagai “juru masak meja”, kadang semua ikut bergantian. Suasana seperti ini membuat terasa akrab dan santai. Obrolan mengalir, tawa muncul, dan waktu terasa berjalan lebih pelan.
Inilah yang membuat sukiyaki sering disebut sebagai comfort food. Bukan hanya karena rasanya hangat dan manis, tetapi juga karena perasaan yang menyertainya. Makan sendirian tetap enak, tapi menikmatinya bersama orang lain memberikan dimensi yang berbeda.
Variasi Sukiyaki dari Berbagai Daerah
Meski berasal dari Jepang, sukiyaki tidak punya satu versi tunggal. Setiap daerah punya gaya dan kebiasaannya sendiri. Di wilayah Kansai, misalnya, biasanya dimulai dengan memasak daging terlebih dahulu bersama gula, baru kemudian ditambahkan kecap. Sementara di wilayah Kanto, kuah biasanya sudah dicampur sejak awal.
Perbedaan kecil ini menghasilkan nuansa rasa yang berbeda. Kansai cenderung lebih manis dan bold, sementara Kanto terasa lebih seimbang sejak suapan pertama. Selain itu, pilihan bahan pun bisa bervariasi, tergantung musim dan ketersediaan lokal.
Di luar Jepang, sukiyaki juga mengalami adaptasi. Di beberapa negara Asia, bahan lokal sering ditambahkan. Ada yang menggunakan daging ayam, seafood, atau bahkan mengganti kuah agar lebih sesuai dengan lidah setempat. Meski begitu, esensi sebagai hidangan kebersamaan tetap terjaga.
Hidangan di Era Modern dan Daya Tariknya Saat Ini
Di tengah maraknya makanan cepat saji dan tren kuliner instan, sukiyaki justru tetap bertahan dengan caranya sendiri. Banyak restoran Jepang modern masih menjadikan sebagai menu andalan. Bahkan, beberapa restoran premium mengangkat sebagai pengalaman fine dining.
Di sisi lain, sukiyaki juga mudah dibuat di rumah. Bahan-bahannya relatif mudah ditemukan, dan proses memasaknya tidak rumit. Ini membuat relevan untuk generasi sekarang yang ingin makan enak tanpa ribet, tapi tetap punya nilai cerita.
Media sosial juga berperan besar dalam memperkenalkan sukiyaki ke audiens yang lebih luas. Visual panci panas dengan irisan daging yang menggoda selalu berhasil mencuri perhatian. Namun di balik tampilannya yang fotogenik, tetaplah makanan yang paling nikmat saat disantap, bukan sekadar dilihat.
Kesimpulan: Sukiyaki sebagai Rasa, Tradisi, dan Pengalaman
Sukiyaki bukan hanya hidangan Jepang berbasis daging dan kuah manis. Ia adalah representasi dari budaya makan yang menekankan kebersamaan, proses, dan kehangatan. Dari sejarahnya yang panjang, racikan bahan yang sederhana, hingga cara menikmatinya yang santai, menawarkan pengalaman kuliner yang utuh.
Di tengah dunia yang serba cepat, sukiyaki mengajak kita untuk melambat sejenak. Duduk bersama, memasak perlahan, dan menikmati setiap suapan. Sebuah hidangan yang tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghangatkan suasana.
Baca juga konten dengan artikel terkait yang membahas tentang food
Simak ulasan mendalam lainnya tentang Beef Yakitori: Jajanan Lezat Street Food Jepang yang Bikin Nagih
Gunakan tautan ini untuk menuju laman utama resmi FATCAI99
