Jakarta, blessedbeyondwords.com – Kalau ngomongin camilan, lidah orang Indonesia itu sebenarnya sederhana tapi setia. Kita nggak selalu butuh yang fancy atau mahal. Kadang, justru camilan tradisional yang bikin kangen dan susah digantikan. Salah satu contohnya adalah lanting pedas.
Bentuknya kecil, biasanya melingkar atau agak bengkok. Warnanya cokelat keemasan, kadang kemerahan karena bumbu pedasnya. Sekilas terlihat biasa saja. Tapi begitu masuk mulut, langsung terasa renyah, gurih, dan pedasnya pelan-pelan naik. Bukan pedas yang nyakitin, tapi pedas yang bikin tangan refleks ambil lagi.
Lanting pedas bukan camilan baru. Ia sudah lama hadir di banyak daerah, terutama di Jawa Tengah. Dulu, lanting identik dengan camilan rumahan, dijual di pasar tradisional atau dititipkan di warung kecil. Tapi sekarang, ceritanya mulai berubah.
Beberapa liputan kuliner dari media nasional Indonesia mencatat bahwa lanting, terutama varian pedas, mulai naik kelas. Dikemas lebih modern, dijual online, bahkan dijadikan oleh-oleh khas daerah. Dari camilan yang dulu dianggap “jadul”, kini lanting pedas justru menemukan penikmat baru dari kalangan Gen Z dan Milenial.
Dan mungkin, ini bukan kebetulan. Di tengah gempuran snack impor dan camilan viral, orang mulai mencari rasa yang familiar. Rasa yang jujur. Rasa yang punya cerita.
Asal-usul Lanting: Sederhana, Tapi Punya Akar Kuat

Lanting berasal dari olahan singkong. Bahan yang sangat akrab dengan dapur masyarakat Indonesia. Di masa lalu, singkong sering jadi alternatif pangan ketika beras sulit didapat. Dari situlah kreativitas muncul.
Lanting dibuat dari singkong yang dihaluskan, dibumbui, dibentuk, lalu dikeringkan sebelum digoreng. Prosesnya panjang, tapi tidak rumit. Semuanya berbasis teknik tradisional dan kesabaran.
Nama “lanting” sendiri dipercaya berasal dari bentuknya yang melingkar, menyerupai angka delapan atau spiral kecil. Bentuk ini bukan sekadar estetika, tapi juga mempengaruhi tekstur saat digoreng. Lebih renyah dan matang merata.
Di beberapa daerah, lanting awalnya tidak pedas. Rasanya gurih asin. Tapi seiring waktu dan selera pasar, varian pedas mulai muncul. Dan justru varian inilah yang kemudian jadi favorit.
Beberapa penulis kuliner Indonesia menyebut lanting sebagai contoh nyata bagaimana makanan tradisional berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitas. Bahan dasarnya tetap sama, tekniknya masih tradisional, tapi rasanya disesuaikan dengan lidah generasi baru.
Lanting pedas adalah hasil adaptasi. Bukan pengkhianatan pada tradisi, tapi kelanjutan darinya.
Lanting Pedas dan Karakter Rasa yang Bikin Nagih
Yang membuat lanting pedas istimewa bukan cuma karena pedasnya. Tapi kombinasi rasa dan teksturnya. Renyah di luar, padat tapi ringan di dalam. Saat digigit, ada bunyi kecil yang bikin puas.
Pedas pada lanting pedas biasanya berasal dari cabai bubuk atau bumbu racik khas. Tidak selalu menyengat. Justru sering kali pedasnya muncul di akhir. Ini yang bikin orang susah berhenti.
Rasa gurih dari singkong dan bumbu berpadu dengan pedas, menciptakan keseimbangan. Tidak terlalu asin, tidak terlalu pahit. Cocok dimakan kapan saja. Pagi, siang, atau malam.
Beberapa pengamat kuliner lokal menilai lanting sebagai camilan yang “jujur”. Tidak ada rasa palsu atau berlebihan. Semua terasa natural. Dan mungkin karena itu, lanting pedas punya daya tahan yang lama di pasaran.
Menariknya, tingkat kepedasan lanting pedas juga mulai beragam. Ada yang ringan, ada yang sedang, bahkan ada yang ekstrem. Ini menunjukkan bagaimana lanting beradaptasi dengan tren makanan pedas yang memang digemari banyak orang Indonesia.
Tapi di balik semua variasi itu, karakter dasarnya tetap sama. Renyah, sederhana, dan bersahabat.
Lanting Pedas dalam Kehidupan Sehari-hari
Lanting pedas bukan camilan yang “ribet”. Ia tidak butuh momen khusus. Justru paling enak dinikmati di saat-saat santai. Teman ngopi sore, teman nonton, atau sekadar pengganjal lapar di tengah aktivitas.
Di banyak rumah, lanting disajikan dalam toples besar. Jadi camilan bersama keluarga. Anak-anak, orang dewasa, semua bisa menikmatinya. Ini camilan lintas generasi.
Beberapa liputan gaya hidup di Indonesia menyebut lanting sebagai camilan nostalgia. Rasanya mengingatkan pada masa kecil, pada suasana desa, pada obrolan sederhana tanpa gadget.
Di sisi lain, lanting pedas juga mulai masuk ke ruang-ruang urban. Dijual di coffee shop kecil, dijadikan snack pendamping minuman, atau dikemas cantik untuk pasar online.
Ini menunjukkan bahwa lanting fleksibel. Ia bisa hidup di dapur tradisional maupun rak etalase modern.
Dan jujur aja, di tengah hidup yang makin kompleks, camilan seperti ini terasa menenangkan. Tidak menuntut apa-apa. Tinggal dimakan dan dinikmati.
Proses Pembuatan: Tradisi yang Dijaga
Meskipun sekarang banyak lanting pedas diproduksi dalam skala lebih besar, proses dasarnya masih sama. Singkong dikupas, direbus, dihaluskan, lalu dibumbui. Adonan dibentuk, dijemur hingga kering, kemudian digoreng.
Proses penjemuran ini krusial. Kalau tidak kering sempurna, lanting bisa melempem atau tidak renyah. Di sinilah pengalaman pembuat lanting berperan besar.
Beberapa pengrajin lanting di daerah masih mengandalkan matahari. Mereka paham betul kapan adonan siap digoreng. Ini bukan sekadar teknik, tapi intuisi yang dibangun bertahun-tahun.
Dalam beberapa laporan UMKM kuliner Indonesia, lanting pedas sering dijadikan contoh produk lokal yang punya potensi besar. Modalnya tidak terlalu besar, bahan mudah didapat, dan pasarnya luas.
Namun, tantangannya juga ada. Menjaga konsistensi rasa, tekstur, dan kualitas bukan hal mudah. Apalagi saat permintaan meningkat.
Tapi justru di situ nilai lanting. Ia mengajarkan bahwa kualitas tidak selalu datang dari mesin canggih, tapi dari perhatian pada detail.
Lanting Pedas dan Tren Kuliner Kekinian
Kalau dilihat sekilas, lanting pedas mungkin kalah pamor dibanding snack viral dari luar negeri. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, tren kuliner justru bergerak ke arah lokal.
Orang mulai bangga dengan produk daerah. Mulai mencari camilan yang punya cerita. Lanting masuk ke celah itu.
Beberapa influencer kuliner Indonesia mulai mengangkat lanting sebagai hidden gem. Bukan karena sensasi berlebihan, tapi karena rasanya konsisten dan mudah disukai.
Kemasan juga ikut berkembang. Dari plastik polos, kini banyak lanting pedas dikemas dengan desain menarik. Ini membuatnya lebih relevan di pasar modern tanpa mengubah isi.
Di sisi lain, lanting juga sering dijadikan contoh bagaimana kuliner tradisional bisa naik kelas tanpa kehilangan jati diri. Tidak perlu mengubah resep secara drastis. Cukup perbaiki presentasi dan distribusi.
Dan ini penting. Karena kuliner bukan cuma soal rasa, tapi juga soal bagaimana ia bertahan dan berkembang.
Lanting Pedas sebagai Identitas Kuliner Lokal
Di balik kerenyahan dan pedasnya, lanting pedas membawa identitas daerah. Ia adalah representasi kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan sederhana.
Ketika kita membeli lanting, sebenarnya kita ikut mendukung rantai ekonomi lokal. Petani singkong, pengrajin, penjual kecil. Semua terlibat.
Beberapa analis kuliner Indonesia menilai camilan seperti lanting sebagai aset budaya. Bukan hanya untuk nostalgia, tapi juga untuk masa depan.
Kalau tidak dijaga, camilan seperti ini bisa tergeser oleh produk massal. Tapi kalau diberi ruang, lanting pedas justru bisa bersaing.
Dan mungkin, di sinilah peran kita sebagai konsumen. Memilih, menghargai, dan menikmati produk lokal.
Penutup: Lanting Pedas, Kecil Tapi Punya Cerita Besar
Lanting pedas mungkin bukan camilan paling mewah. Tapi ia jujur. Ia sederhana. Dan ia punya cerita panjang yang layak dihargai.
Dari dapur desa hingga rak modern, lanting membuktikan bahwa rasa yang baik tidak mengenal zaman. Ia bisa beradaptasi tanpa kehilangan identitas.
Di setiap gigitan lanting pedas, ada kerja keras, ada tradisi, dan ada kehangatan. Dan mungkin, itu yang membuatnya selalu dirindukan.
Jadi lain kali kamu mencari camilan, coba ingat lanting. Camilan kecil dengan rasa besar dan cerita yang panjang.
Baca Juga Konten Dengan Kategori Terkait Tentang: Food
Baca Juga Artikel Dari: Kacang Goreng: Camilan Sederhana yang Diam-Diam Jadi Ikon Rasa di Meja Nusantara
Silakan Kunjungi Sumber Resmi Berikut: SITUSTOTO
