JAKARTA, blessedbeyondwords.com – Picarones adalah dessert jalanan Peru yang paling demokratis dan paling dicintai. Cincin-cincin adonan labu dan ubi yang digoreng hingga keemasan, lalu disiram dengan chancaca atau molases gula merah yang kental. Harum, dan manis, adalah pemandangan yang bisa ditemukan di berbagai sudut Lima dan kota-kota besar Peru sepanjang sore dan malam hari. Aroma manis dari gorengan panas dan saus chancaca yang mengalir adalah sinyal yang paling efektif untuk mengumpulkan kerumunan di sekitar gerobak penjualnya.
Picarones bukan sekadar jajanan manis. Ia adalah warisan kuliner yang merentang lebih dari empat abad, lahir dari perpaduan antara tradisi memasak pra-Inca. Pengaruh kuliner Spanyol, dan kreativitas Afrika yang dibawa oleh para budak ke tanah Peru. Selain itu, ia adalah bukti bahwa hidangan yang lahir dari keterbatasan material bisa berkembang menjadi salah satu ekspresi kuliner paling kaya dan paling bermakna dari suatu budaya.
Sejarah Picarones yang Lahir dari Tiga Budaya

Picarones adalah produk dari perpaduan tiga tradisi yang bertemu di Peru pada era kolonial. Akar pertamanya berasal dari tradisi pra-Inca yang sudah lama menggunakan labu. Dan ubi sebagai bahan makanan utama di wilayah Andes dan pesisir Peru. Kedua bahan ini tumbuh subur di tanah Peru dan sudah menjadi bagian penting dari pola makan penduduk asli jauh sebelum kedatangan penjajah.
Ketika penjajah Spanyol membawa tradisi membuat buñuelos. Sejenis donat goreng berbahan tepung, para juru masak perempuan Afro-Peru yang bekerja di dapur-dapur kolonial mengadaptasinya dengan brilian. Mereka menggantikan atau menambahkan tepung dengan labu dan ubi yang tersedia secara lokal, menghasilkan adonan yang lebih kaya rasa. Lebih berwarna, dan lebih unik dari versi Spanyol aslinya. Selain itu, chancaca yang digunakan sebagai siraman berasal dari tradisi pengolahan tebu. Yang juga dibawa ke Peru pada masa kolonial, menjadikan picarones sebagai perlambang sempurna dari fusion kuliner yang terjadi selama era tersebut.
Picaroneras: Tradisi yang Diwariskan Turun-Temurun
Sama seperti anticucheras, penjual picarones di Peru hampir selalu adalah perempuan yang dikenal sebagai picaroneras. Mereka adalah penjaga tradisi pembuatan picarones yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi dalam keluarga mereka. Selain itu, teknik membentuk cincin adonan dengan tangan yang sudah sangat terlatih adalah keterampilan. Yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikuasai dan merupakan kebanggaan tersendiri bagi setiap picaronera.
Bahan-Bahan untuk Picarones
Bahan-bahan picarones sangat sederhana namun pemilihan yang tepat sangat menentukan hasil akhirnya.
Untuk adonan:
- Labu kuning atau butternut squash yang sudah dikukus dan dihaluskan
- Ubi jalar oranye yang sudah dikukus dan dihaluskan sebagai pasangan wajib labu
- Ragi segar atau ragi instan yang diaktifkan untuk membuat adonan mengembang dan ringan
- Sedikit tepung terigu sebagai pengikat yang membantu adonan mempertahankan bentuknya
- Garam dan anggur putih kering atau chicha de jora sedikit untuk rasa yang lebih kompleks
- Minyak goreng yang banyak dan bersih untuk menggoreng
Untuk saus chancaca:
- Chancaca atau gula merah tebu padat yang dilarutkan dalam air menjadi sirup kental
- Kayu manis batang, cengkeh, dan kulit jeruk sebagai rempah yang aromatik
- Sedikit anise atau adas manis untuk aroma yang khas
Cara Membuat Picarones yang Sempurna
- Kukus labu dan ubi secara terpisah hingga benar-benar lunak. Haluskan keduanya dengan ricer atau saringan kasar hingga teksturnya lembut tanpa gumpalan. Biarkan agak dingin.
- Larutkan ragi dalam sedikit air hangat, tambahkan sejumput gula, dan biarkan berbusa selama 5 menit.
- Campurkan labu halus, ubi halus, ragi yang sudah aktif, dan sedikit tepung, garam, serta chicha atau anggur. Aduk hingga membentuk adonan yang lembut dan sedikit lengket. Tutup dan biarkan mengembang selama satu jam.
- Buat saus chancaca: cairkan chancaca dalam air, tambahkan semua rempah, masak dengan api kecil selama 15 menit hingga menjadi sirup yang kental dan harum. Saring dan sisihkan dalam keadaan hangat.
- Panaskan minyak goreng dalam panci dalam hingga 175 derajat Celsius. Ambil segenggam adonan dengan tangan yang sudah dibasahi air, bentuk seperti cincin dengan cara membuat lubang di tengah menggunakan jari. Masukkan langsung ke dalam minyak panas.
- Goreng setiap picarones selama 2 hingga 3 menit setiap sisi hingga berwarna cokelat keemasan. Tiriskan dan segera siram dengan saus chancaca yang hangat. Sajikan segera.
Cita Rasa yang Mewakili Jiwa Peru
Picarones yang baru digoreng dan masih panas adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Permukaan luarnya sedikit renyah dengan warna cokelat keemasan yang menggugah selera. Di dalamnya, adonan labu dan ubi yang sudah mengembang selama fermentasi ringan memiliki tekstur. Yang sangat lembut dan sedikit beraroma ragi yang khas. Rasa labu dan ubi yang manis alami hadir sebagai fondasi yang sangat nyaman.
Saus chancaca yang disiram di atasnya adalah elemen yang mengubah segalanya. Manis yang dalam dari gula tebu berpadu dengan aroma kayu manis. Cengkeh, dan anise menciptakan saus yang jauh lebih kompleks dari sekadar manis biasa. Selain itu, cara saus chancaca meresap perlahan ke dalam pori-pori picarones. Yang masih panas adalah proses yang sangat memuaskan untuk ditonton bahkan sebelum dimakan.
Picarones dalam Festival dan Perayaan Peru
Picarones adalah makanan yang selalu hadir dalam berbagai festival dan perayaan tradisional Peru. Pada perayaan Inti Raymi atau Festival Matahari yang dirayakan setiap Juni. Picarones adalah salah satu jajanan yang paling banyak dijual di sekitar venue perayaan. Selain itu, selama bulan Ramadan bagi komunitas Muslim Peru yang kecil. Ada, picarones sering menjadi bagian dari menu berbuka karena kandungan energinya yang cepat melepas gula alami.
Di berbagai feria atau pasar seni dan kuliner tradisional yang rutin diadakan di Lima dan kota-kota besar Peru. Stand picarones selalu memiliki antrian yang paling panjang. Para wisatawan yang pertama kali mencicipinya sering terkejut betapa addictive-nya kombinasi picarones hangat dan chancaca yang kental.
Picarones juga mulai mendapat perhatian dari komunitas kuliner internasional yang terus mencari dessert otentik dari berbagai penjuru dunia. Beberapa festival makanan internasional di Eropa dan Amerika Serikat sudah mulai menampilkan picarones sebagai perwakilan kuliner Peru. Selain itu, video pembuatan picarones yang diunggah oleh berbagai kreator konten Peru di media sosial sering mendapat jutaan penonton yang terpesona oleh cara penjual yang terampil membentuk cincin adonan langsung di atas wajan panas.
Penutup: Picarones, Keajaiban Sederhana yang Lahir dari Tangan yang Terampil
Picarones adalah pengingat bahwa keajaiban kuliner tidak selalu membutuhkan laboratorium, bahan ekotis, atau teknik yang dipelajari di sekolah memasak mahal. Sebab yang dibutuhkan untuk membuat picarones adalah labu, ubi, ragi. Dan sepasang tangan yang sudah tahu persis kapan adonan siap, seberapa panas minyak yang tepat, dan berapa lama setiap cincin harus digoreng.
Selain itu, picarones mengajarkan bahwa makanan jalanan yang paling berkesan selalu dibuat oleh manusia nyata dengan keahlian nyata yang dibangun melalui pengulangan dan kecintaan yang tulus terhadap apa yang mereka buat.
Oleh karena itu, ketika menemukan gerobak picarones dengan asap yang mengepul dan aroma chancaca yang harum, berhentilah sejenak dan pesanlah satu porsi. Karena di balik kesederhanaan cincin goreng itu tersimpan sejarah panjang dan kebijaksanaan kuliner yang tidak akan ditemukan di tempat lain manapun.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Food
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti:
