Jakarta, blessedbeyondwords.com – Jika berbicara tentang kuliner Asia Tenggara, ada satu hidangan yang hampir selalu muncul dalam percakapan para food lover: Tom Yum. Sup pedas asam khas Thailand ini bukan hanya makanan — tetapi pengalaman rasa yang kompleks, berlapis, dan menggugah selera. Aromanya saja sudah mampu membuat seseorang langsung menelan ludah; segar, tajam, dan memikat. Dari aroma serai yang mengepul, daun jeruk purut yang harum, hingga semburan rasa pedas yang hangat di lidah, TomYum telah menjadi ikon kuliner dunia.
Sebagai pembawa berita yang sering meliput kuliner Asia, saya menyaksikan sendiri bagaimana TomYum menjadi fenomena global. Restoran Thailand di Jakarta, Bali, hingga kota-kota besar seperti Singapura, Tokyo, Bangkok, Kuala Lumpur, atau bahkan Melbourne selalu memasukkan Tom Yum sebagai menu wajib. Bahkan dalam berbagai festival makanan internasional, TomYum hampir selalu menjadi hidangan yang dicari pengunjung.
Saya masih ingat ketika meliput festival kuliner di Bangkok beberapa tahun lalu. Di sana, seorang chef lokal bercerita kepada saya bahwa TomYum dibuat bukan untuk sekadar memuaskan rasa lapar, tetapi untuk—katanya—membersihkan jiwa. “Setiap suapan Tom Yum membawa keseimbangan,” ujarnya. “Ada pedas yang membangunkan, asam yang menyegarkan, gurih yang menenangkan, dan aroma herbal yang menyatukan semuanya.” Kalimat itu terdengar puitis, tetapi ketika saya menyesap satu sendok TomYum buatan chef tersebut, saya mengangguk setuju.
Tom Yum bukan sup biasa. Ia adalah paduan rasa, teknik, dan budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Dan kini, ia telah menjelma menjadi ikon global.
Sejarah Tom Yum: Hidangan Sungai Chao Phraya yang Kini Mendunia
Tom Yum berasal dari Thailand Tengah, wilayah yang dilintasi Sungai Chao Phraya. Pada masa lalu, masyarakat Thailand yang hidup di sepanjang sungai banyak mengonsumsi ikan dan udang segar. Untuk menghilangkan aroma amis, mereka memasaknya bersama rempah seperti serai, lengkuas, dan daun jeruk purut.
Berbeda dengan hidangan pedas di negara lain, TomYum mendapatkan kepedasannya bukan hanya dari cabai, tetapi dari kombinasi rempah aromatik yang digunakan sebagai dasar sup. Itulah mengapa aromanya begitu khas.
Dalam beberapa artikel kuliner Thailand yang dikutip oleh media Indonesia, Tom Yum disebut sebagai hidangan rumah—sesuatu yang dibuat sehari-hari, bukan hanya untuk momen khusus. Seiring berkembangnya pariwisata Thailand, TomYum mulai muncul di restoran-restoran hotel hingga akhirnya mendunia.
Menariknya, TomYum juga dianggap sebagai hidangan penyembuh. Banyak orang Thailand percaya bahwa sup pedas asam ini mampu meredakan flu, menambah energi, dan membersihkan tubuh dari dalam. Tidak heran, TomYum selalu menjadi pilihan orang ketika merasa tidak enak badan — mirip seperti tradisi makan sop hangat di berbagai budaya lain.
Jenis-Jenis Tom Yum: Tidak Hanya Satu, Ada Banyak Variasi yang Lezat
Meskipun kebanyakan dari kita mengenal Tomyum sebagai sup pedas asam dengan udang, nyatanya hidangan ini memiliki berbagai variasi. Masing-masing punya karakter dan cerita tersendiri.
1. Tom Yum Goong
Ini adalah versi paling populer — goong berarti udang. Kuahnya bening, aromanya kuat, dan rasanya segar.
2. Tom Yum Nam Khon
Variasi ini menggunakan tambahan susu evaporasi atau santan ringan yang membuat kuahnya lebih creamy dan lembut. Versi ini sangat populer di Bangkok.
3. Tom Yum Pla
Menggunakan ikan sebagai bahan utama. Rasanya ringan, namun tetap aromatik.
4. Tom Yum Talay
Versi seafood campuran — kerang, cumi, ikan, dan udang dalam satu mangkuk.
5. Tom Yum Kai
Menggunakan ayam sebagai pengganti seafood. Cocok bagi mereka yang tidak suka makanan laut.
Setiap jenis Tom Yum menawarkan pengalaman rasa berbeda, namun tetap mempertahankan karakter dasarnya: pedas, asam, gurih, dan penuh aroma herbal.
Bahan-Bahan Kunci yang Membuat TomYum Begitu Ikonik
Keunikan TomYum terletak pada perpaduan rempah segar yang menjadi dasar kuahnya. Bahan ini sering disebut sebagai “Trio Sakti” masakan Thailand:
1. Serai
Memberikan aroma citrus segar dan membantu menghilangkan bau amis.
2. Lengkuas
Berbeda dari jahe, lengkuas memberikan sensasi hangat dan aroma kayu yang khas.
3. Daun Jeruk Purut
Memberi sentuhan segar sekaligus menyeimbangkan rasa pedas.
Selain itu, ada beberapa bahan penting lain:
-
Cabai rawit
-
Cabai kering
-
Tomat
-
Jamur
-
Perasan jeruk nipis
-
Kayu manis tipis (versi tertentu)
-
Kaldu udang atau ayam
-
Saus ikan
Ketika semua bahan ini berpadu dalam satu mangkuk, TomYum menghasilkan rasa kompleks yang sulit ditiru hidangan lain.
Anekdot Kuliner: Rasa Tom Yum yang Membuat Traveler Kembali Lagi
Dalam perjalanan liputan saya di Chiang Mai, saya bertemu seorang turis asal Australia yang mengatakan bahwa setiap kali pulang dari Thailand, ia selalu merindukan Tom Yum.
“Saya tidak pernah menemukan TomYum yang rasanya sama di luar Thailand,” katanya. “Ada aroma yang tidak bisa saya jelaskan.”
Cerita ini sering saya dengar dari berbagai traveler. TomYum bukan hanya tentang rasa. Ada memori, suasana, bahkan ikatan emosi dengan Thailand yang muncul tiap kali seseorang menyantap hidangan ini.
Cara Memasak Tom Yum yang Autentik: Teknik, Bukan Sekadar Resep
Tom Yum yang lezat tidak hanya bergantung pada bahan, tetapi pada urutan dan teknik memasak. Chef Thailand sering mengatakan bahwa memasak Tomyum adalah “membaca rasa dari rempah.”
Berikut garis besar teknik memasaknya:
1. Rebus kaldu
Gunakan kaldu yang kaya rasa — udang, ayam, atau seafood.
2. Masukkan rempah keras
Serai, lengkuas, dan daun jeruk harus dimasukkan sejak awal agar aromanya meresap.
3. Tambahkan cabai
Cabai rawit bisa digeprek, sedangkan cabai kering bisa digoreng sedikit untuk aroma smoky.
4. Masukkan protein
Udang, ikan, atau seafood lainnya dimasak sebentar agar tidak keras.
5. Tambahkan jamur dan tomat
6. Koreksi rasa
Tambahkan saus ikan, sedikit gula, garam, dan terakhir perasan jeruk nipis.
Dan tentu saja, TomYum paling nikmat disajikan panas.
Manfaat Tom Yum untuk Kesehatan
Banyak artikel kesehatan di Indonesia menyebut bahwa TomYum kaya antioksidan dan vitamin. Hal ini benar adanya — bahan-bahan TomYum, khususnya rempah segarnya, memiliki efek kesehatan nyata:
1. Meningkatkan Imunitas
Lengkuas, serai, dan cabai dikenal memiliki sifat antimikroba.
2. Meredakan Flu
Kuah hangat membantu melegakan tenggorokan.
3. Rendah Kalori
Tanpa tambahan santan, Tom Yum termasuk sup rendah lemak.
4. Kaya Antioksidan
Daun jeruk dan tomat memberi efek antioksidan yang baik untuk kulit dan tubuh.
Tom Yum di Indonesia: Populer, Kreatif, dan Terus Berkembang
Di Indonesia, Tom Yum berkembang dengan cepat dan diadaptasi oleh budaya kuliner lokal. Banyak restoran Thailand di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Bali menghidangkan TomYum sebagai menu unggulan.
Namun yang lebih menarik adalah cara masyarakat Indonesia memodifikasi TomYum:
-
Tom Yum instan
-
Tom Yum krim
-
Tom Yum pedas ekstra
-
Tom Yum kuah susu
-
Mi instan rasa TomYum
-
Tom Yum versi rumahan
Bahkan dalam beberapa liputan kuliner kota besar, TomYum sering disebut sebagai salah satu sup asing yang paling cepat diterima lidah Indonesia—karena rasa pedas asamnya mirip masakan lokal.
Tips Menikmati Tom Yum Secara Maksimal
1. Pilih Udang atau Seafood Segar
Bahan segar menghasilkan rasa yang lebih kuat.
2. Sajikan Selagi Panas
Aroma TomYum paling kuat saat baru matang.
3. Tambahkan Jeruk Nipis di Akhir
Agar rasa asam lebih segar, bukan getir.
4. Jangan Lupakan Daun Ketumbar
Meskipun opsional, aromanya membuat TomYum lebih khas.
Kesimpulan: Tom Yum Adalah Hidangan yang Menyatukan Rasa, Budaya, dan Emosi
Tom Yum bukan sekadar sup. Ia adalah perjalanan rasa, perpaduan kultur, dan pengalaman kuliner yang hidup. Setiap suapan menghadirkan kombinasi pedas-asam yang membangunkan, aroma rempah yang menenangkan, dan gurih yang memuaskan.
Bagi pecinta kuliner, TomYum adalah bukti bahwa masakan sederhana bisa menjadi ikon global ketika dibuat dengan cinta dan tradisi yang kuat.
Dari rumah di Thailand hingga meja makan di Indonesia, TomYum adalah hidangan yang selalu dirindukan dan terus berkembang. Inilah kekuatan kuliner — menembus batas, menyatukan lidah, dan membawa cerita ke mana pun ia pergi.
Baca Juga Konten Dengan Artikel Terkait Tentang: Food
Baca Juga Artikel Dari: Moon Cake: Kue Tradisi yang Menyimpan Cerita, Budaya, dan Kenangan dalam Setiap Gigitan
